Rabu, 25 Desember 2013

JABAT TANGAN DENGAN WANITA BUKAN MAHRAM

Pada zaman sekarang jabat tangan antara laki-laki dengan perempuan hampir sudah menjadi tradisi. Tradisi bejat itu mengalahkan akhlak islami yang semestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya dari pada syariat Allah Tabaroka wata’ala yang mengharamkannya.

Sehingga jika salah seorang dari mereka anda ajak dialog tentang hukum syariat dengan dalil-dalil yang kuat dan jelas tentu serta merta ia akan menuduh anda dengan sebagai orang kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali silaturrahmi, menggoyahkan niat baik ….dan sebagainya.

Sehingga dalam masyarakat kita, berjabat tangan dengan anak (perempuan) paman atau bibi dengan istri saudara atau istri paman baik dari pihak ayah maupun ibu lebih mudah dari pada minum air.

Seandainya mereka melihat secara jernih dan penuh pengetahuan tentang bahaya persoalan tersebut menurut syara’ tentu mereka tidak akan melakukan hal tersebut.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sungguh ditusuknya kepala salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR Ath Thabrani dalam shahihul jami’ hadits no : 4921).

Kemudian tak diragukan lagi, hal ini termasuk zina tangan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

“Kedua mata berzina, kedua tangan berzina, kedua kaki berzina dan kemaluanpun berzina” (HR. Ahnad, 1/ 412; shahihul jam’ : 4126).

Dan, adakah orang yang hatinya lebih bersih dari hati Nabi Shallallahu'alaihi wasallam? Namun begitu beliau mengatakan :

“Sesungguhnya aku tidak menyentuh tangan dengan wanita” (HR Ahmad, 6/357 dalam shahihul jami’ hadits no : 2509).

Beliau Shallallahu'alaihi wasallam juga bersabda :
“Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan wanita” (HR Ath Thabrani dalam Al Kabir : 24/342, shahihul jami’: 70554)

Dan dari Aisyah Radliallahu Anha, dia berkata :
Dan Demi Allah, sungguh tangan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak (pernah) menyentuh tangan perempuan sama sekali, tetapi beliau membaiat mereka dengan perkataan” (HR Muslim ,: 3/1489).

Hendaknya takut kepada Allah, orang-orang yang mengancam cerai istrinya yang shalihah karena tidak mau berjabat tangan dengan kolega-koleganya. Perlu juga diketahui, berjabat tangan dengan lawan jenis, meski memakai alas (kaos tangan) hukumnya tetap haram.

Selasa, 24 Desember 2013

KHALWAT (BERDUAAN) DENGAN WANITA YANG BUKAN MAHRAM



Syaitan amat giat dalam menebarkan fitnah dan menjerumuskan manusia kepada yang haram. Karena itu Allah Subhanahu wata'ala mengingatkan kita dengan firmannya :

“Hai orang –orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Berangsiapa mengikuti langkah-langkah syaitan maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar” (An Nur : 21).

Syaitan masuk kepada anak Adam bagaikan aliran darah. Diantara cara-cara syaitan di dalam menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan keji adalah khalwat dengan wanita bukan mahram. Karenanya, syariat Islam menutup pintu tersebut, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :

Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali pihak ketiganya adalah syaitan” (HR At Tirmidzi, 3/474; lihat Misykatul mashabih: 3188)

Dan dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sungguh hendaknya tidak masuk seorang laki-laki dari kamu setelah hari ini kepada wanita yang tidak ada bersamanya (suami atau mahramnya) kecuali bersamanya seorang atau dua orang laki-laki. (HR Muslim : 4/1711)

Berdasarkan petunjuk hadits di atas, maka tidak dibolehkan seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita bukan mahram, baik di rumah, di kamar, di kantor, atau di mobil, baik dengan istri saudaranya dengan pembantunya atau pasien wanita dengan dokter atau yang semacamnya.

Banyak orang meremehkan persoalan ini, entah karena terlalu percaya kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Padahal khalwat sangat potensial untuk mengundang perbuatan mungkar dan maksiat. Paling tidak, membangun prolog untuk mengarah ke sana. Karenanya tidak mengherankan, jika semakin banyak ketidak jelasan nasab dan keturunan. Di samping jumlah anak-anak haram juga meningkat tajam.

Minggu, 08 Desember 2013

PERKAWINAN ADALAH FITRAH KEMANUSIAAN

Agama Islam adalah agama fithrah, dan manusia diciptakan Allah Ta'ala cocok dengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Sehingga manusia berjalan di atas fithrahnya.
Perkawinan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam.
Firman Allah Ta'ala.

"Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Ar-Ruum : 30).

A. Islam Menganjurkan Nikah
Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata : "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi". (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

B. Islam Tidak Menyukai Membujang
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu 'anhu berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras". Dan beliau bersabda :
"Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat". (Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban).
Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus. Dan yang lain berkata: Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya .... Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda :
"Artinya : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku". (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain Muhammad Yusuf : "Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab".
Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.
Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.
Islam menolak sistem ke-rahib-an karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan, dan bahkan sikap itu berarti melawan sunnah dan kodrat Allah Ta'ala yang telah ditetapkan bagi makhluknya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh), karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam rahim, dan manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang dikaruniakan Allah, misalnya ia berkata : "Bila saya hidup sendiri gaji saya cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!".
Perkataan ini adalah perkataan yang batil, karena bertentangan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah memerintahkan untuk kawin, dan seandainya mereka fakir pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah, dalam firman-Nya:
"Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui".
(An-Nur : 32).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya :
"Artinya : Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya". (Hadits Riwayat Ahmad 2 : 251, Nasa'i, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2 : 160 dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu 'anhu).
Para Salafus-Shalih sangat menganjurkan untuk nikah dan mereka anti membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri.
Ibnu Mas'ud radliyallahu 'anhu pernah berkata : "Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah sebagai seorang bujangan". (Ihya Ulumuddin dan Tuhfatul 'Arus hal. 20).

Sabtu, 07 Desember 2013

Memilih Istri yang Tepat

Allah berfirman:
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (An-Nur: 32).
Hendaknya seseorang memilih isteri shalihah dengan syarat-syarat sebagai berikut:

"Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka hendaknya engkau utamakan wanita yang memiliki agama, (jika tidak) niscaya kedua tanganmu akan berdebu (miskin, merana)".
Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 9/132.

"Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah''.   Hadits riwayat Muslim (1468), cet. Abdul Baqi; dan riwayat An-Nasa'i   dari Ibnu Amr, Shahihul Jami', hadits no.3407

"Hendaklah salah seorang dari kamu memiliki hati yang bersyukur, lisan yang selalu dzikir dan isteri beriman yang menolongnya dalam persoalan akhirat".Hadits riwayat Ahmad (5/282), At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsauban, Shahihul Jami', hadits no. 5231
Dalam riwayat lain disebutkan :

"Dan isteri shalihah yang menolongmu atas persoalan dunia dan agamamu adalah sebaik-baik (harta) yang disimpan manusia".
Hadits riwayat Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab  dari Abu Umamah. Lihat Shahihul Jami', hadits no. 4285

"Kawinilah perempuan yang penuh cinta dan yang subur peranakannya. Sesungguhnya aku membanggakan dengan banyaknya jumlah kalian di antara para nabi pada hari Kiamat." Hadits riwayat Imam Ahmad (3/245), dari Anas. Dikatakan dalam Irwa 'ul Ghalil, "Hadits ini shahih", 6/195

"(Nikahilah) gadis-gadis, sesungguhnya mereka lebih banyak keturunannya, lebih manis tutur katanya dan lebih menerima dengan sedikit (qana'ah)". Hadits riwayat lbnu Majah, No. 1861 dan alam As-Silsilah Ash-Shahihah, hadits No. 623
Dalam riwayat lain disebutkan : "Lebih sedikit tipu dayanya".Sebagaimana wanita shalihah adalah salah satu dari empat  sebab kebahagiaan maka sebaliknya wanita yang tidak shalihah adalah salah satu dari empat penyebab sengsara. Seperti tersebut dalam hadits shahih:


"Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah, engkau memandangnya lalu engkau kagum dengannya, dan engkau pergi daripadanya tetapi engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu"
Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282
Sebaliknya, perlu memperhatikan dengan seksama keadaan orang yang meminang wanita muslimah tersebut, baru mengabulkannya setelah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

"Jika datang kepadamu seseorang yang engkau rela terhadap akhlak dan agamanya maka nikahkanlah, jika tidak kamu lakukan niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar".
Hadits riwayat Ibnu Majah 1967, dalam As-Silsilah Ash-Shahihah,  hadits no. 1022
Hal-hal di atas perlu dilakukan dengan misalnya bertanya, melakukan penelitian, mencari informasi dan sumber-sumber berita terpercaya agar tidak merusak dan menghancurkan rumah tangga yang bersangkutan."
Laki-laki shalih dengan wanita shalihah akan mampu membangun rumah tangga yang baik, sebab negeri yang baik akan keluar tanamannya dengan izin Tuhannya, sedang negeri yang buruk tidak akan keluar tanaman daripadanya kecuali dengan susah payah.
Nasehat (2): Upaya Membentuk (Memperbaiki) Isteri.
Apabila isteri adalah wanita shalihah maka inilah kenikmatan serta anugerah besar dari Allah Ta'ala. Jika tidak demikian, maka kewajiban kepala rumah tangga adalah mengupayakan perbaikan.
Hal itu bisa terjadi karena beberapa keadaan. Misalnya, sejak semula ia memang menikah dengan wanita yang sama sekali tidak memiliki agama, karena laki-laki tersebut dulunya, memang tidak memperdulikan persoalan agama. Atau ia menikahi wanita tersebut dengan harapan kelak ia bisa memperbaikinya, atau karena tekanan keluarganya. Dalam keadaan seperti ini ia harus benar-benar berusaha sepenuhnya sehingga bisa melakukan perbaikan.
Suami juga harus memahami dan menghayati benar, bahwa persoalan hidayah (petunjuk) adalah hak Allah. Allah-lah yang memperbaiki. Dan di antara karunia Allah atas hambaNya Zakaria adalah sebagaimana difirmankan:
"Dan Kami perbaiki isterinya". (Al-Anbiya': 90).
Perbaikan itu baik berupa perbaikan fisik maupun agama. Ibnu Abbas berkata: "Dahulunya, isteri Nabi Zakaria adalah mandul, tidak bisa melahirkan maka Allah menjadikannya bisa melahirkan". Atha' berkata: Sebelumnya, ia adalah panjang lidah, kemudian Allah memperbaikinya".  
Beberapa Metode Memperbaiki Isteri:
  1. Memperhatikan dan meluruskan berbagai macam ibadahnya kepada Allah Ta'ala. Kupasan dalam masalah ini ada dalam pembahasan berikutnya.
  2. Upaya meningkatkan keimanannya, misalnya:
    1. Menganjurkannya bangun malam untuk shalat  tahajjud
    2. Membaca Al Qur'anul Karim.
    3. Menghafalkan dzikir dan do'a pada waktu dan kesempatan tertentu.
    4. Menganjurkannya melakukan banyak sedekah.
    5. Membaca buku-buku Islami yang bermanfaat.
    6. Mendengar rekaman kaset yang bermanfaat, baik     dalam soal keimanan maupun    ilmiah dan terus mengupayakan tambahan koleksi kaset yang sejenis.
    7. Memilihkan teman-teman wanita shalihah baginya sehingga bisa menjalin ukhuwah yang kuat, saling bertukar pikiran dalam masalah-masalah agama serta saling mengunjungi untuk  tujuan yang baik.
    8. Menjauhkannya dari segala keburukan dan pintu-pintunya. Misalnya dengan menjauhkannya dari

SEBAGIAN PENYELEWENGAN YANG TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB DIHINDARKAN/DIHILANGKAN


1. Pacaran
Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya "Berpacaran" terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan individu, atau masa penjajakan atau dianggap sebagai perwujudan rasa cinta kasih terhadap lawan jenisnya.

Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar berbagai pihak untuk
menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram hukumnya menurut syari'at Islam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran hukumnya haram.
2. Tukar Cincin
Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, Nashiruddin Al-Bani)

3. Menuntut Mahar Yang Tinggi
Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.

Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu sangat lemah. (Lihat Irwa'ul Ghalil 6, hal. 347-348).
4. Mengikuti Upacara Adat
Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang benar dan shahih telah mereka matikan dan padamkan.

Sungguh sangat ironis...!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum yakin kepada Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
"Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?". (Al-Maaidah : 50).
Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tata cara selain Islam, maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di Akhirat mereka akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta'ala :
"Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (Ali-Imran : 85).

5. Mengucapkan Ucapan Selamat Ala Kaum Jahiliyah
Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa' Wal Banin, ketika mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa' Wal Banin (=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.
Dari Al-Hasan, bahwa 'Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah : Birafa' Wal Banin. 'Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata : "Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu 'alaihi wa sallam melarang ucapan demikian". Para tamu bertanya :"Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?".
'Aqil menjelaskan :

"Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka 'Alaiykum" (= Mudah-mudahan Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan). Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam". (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain).

Do'a yang biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ucapkan kepada seorang mempelai ialah :
"Baarakallahu laka wa baarakaa 'alaiyka wa jama'a baiynakumaa fii khoir"
Do'a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:
'Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan do'a : (Baarakallahu laka wabaraka 'alaiyka wa jama'a baiynakuma fii khoir) = Mudah-mudahan Allah memberimu keberkahan, Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan". (Hadits Shahih Riwayat Ahmad 2:38, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah dan Baihaqi 7:148).

6. Adanya Ikhtilath
Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari semuanya.
7. Pelanggaran Lain
Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah musik yang hingar bingar.

Jumat, 15 November 2013

Mengapa Pacaran Ko' Jadi Haram... Padahal Itukan Nikmat..Oup's !!!


Dulunya saya sangat tidak sependapat jika ada yang mengatakan bahwa pacaran itu haram hukumnya. Sempat juga waktu itu saya berkata dan protes kepada tuhan, bahwa kayaknya tuhan itu kebablasan dalam enyampaikan hal ini. Kenapa, pacaran itu enak ko’, member semangat yang luar biasa kepada seseorang dalam berbuat. Bahkan hal yang tidak mungkin dilakukan pun bsa dilakukan jika udah dipondasikan dengan system pacaran. Gimana ngga’ kan…. Kenapa ada kalimat “gunung aku daki dan lautan ku sebrangi”… kalimat itu muncul karena cinta tuh. Ia kan, coba bayangkan mana mungkin kita mendaki gunung jika gunung itu banyak batu, banyak hantu dan singa ada juga didalamnya. Apalagi menyebrangi lautan, yang penuh dengan ikan paus, airnya asin lagi tuh. Ah konyaol banget dah jika ngelakuin hal tersebut hanya dikarenakan cinta. He
Apalagi waktu saya lagi hight-hightnya pacran waktu itu, kadang dalam doa saya sholat, saya doa gini “ya Allah, saya bukan pacaran, hanya saja saya jalan-jalan tadi”…. Itu kalimat konyol yang saya utarakan dalam sholat, padahal hati saya penuh dengan cinta, saya lupa padahal Allah itu maha segalanya dan tentunya maha tahu aka nisi hati, ya termasuk hati saya juga.
Mengenang masa lalu kadang membuat kita menangis dan kadang juga membuat kita tertawa. Mengingat masa lalu juga membuat kita menjadi labih baik –jika berpikir positif—berakibat jelek jika sebaliknya.
Oke, ke poin awal masalah pacaran. Saya sempatkan waktu untuk menjelaskan hal ini kepada sahabat semua karena saya yakin ini penting bahkan sangat-sangat penting untuk kita ketahui sebagai anak generasi yang ber ISLAM.
Kita tahu minuman keras itu Haram kan… bahkan anak kecil pun tahu bahwa minuman keras itu haram hukumnya. Oke…
Berdagang itu apa hukumnya, baik kan, mubah bahkan bias dikatakan wajib, karena berdagang merupakan sunah rasulullah SAW. Dizaman rasulullah berdagang merupakan salah satu penghasilan mereka. Bahkan jika dipelajari secara dalam tentang rasulullah, rasullah selalu berdagang diwaktu itu.
Berdagang minuman keras boleh ndak ?... pasti kita mengatakan tidak boleh. Jangan dibahas dengan agama, kayaknya terlalu jauh. Bahas dengan perundangan-undangan saja. Kenapa pemerintah selalu mengadakan razia minuman keras ketoko-toko. Pasti jawabnya karena bisa berakibat tidak baik kepada peminumnya kan. Dalam hal ini tentu berdagang menjadi tidak baik, khususnya berdagang minum-minuman keras.
Begitu juga dengan pacaran. Kenapa pacaran menjadi haram. Jawabnya karena itu merupakan bunga-bunganya Zinah sob. . kita umat beragama, pakai selalu pakai jilbab “cewek”… tapi kenapa kita malah bias-bisanya selalu jalan-jalan dengan orang yang bukan muhrim kita.
Woy…… ketika dikatakan “aku cinta padamu”… oleh si cowok pada anda “cewek” itu bukan berarti segalanya galanya menjadi boleh. Keliru sob. Jangan katakan jika kata tersebut udah terungkap dari si cowok semua menjadi boleh, saya tekankan itu. KELIRU BOY….
Kembali ke Zinah, Zinah hukumnya Haram, Al-Qur’an tidak ada ngungkapkan hal ini, hanya saja terungkap jangan mendekati Zinah kan… Sob, mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya, sulit dah bilangnya.
Pacaran itu membuat kedua belah pihak itu menjadi begok, rugi sedunia. Kenapa--- biasanya jika orang sedang pacaran dia sanggup ngorbankan segala-galanya demi sipacarnya. Bahkan nesehat orang tuanya sekalipun tidak pernah dihiraukannya. Yang sangat jelas ruginya harga dirinya terkikis habis. Al-hasil hamil diluar nikah.
Terlalu jauh ngebahas Hamil…. Begini, nda kepasar ingin mebeli barang yang anda anggap sangat perlu. Tapi jika barang tersebut ada noda ataupun ada bekas goresan dari tangan orang lain, apakah anda membelinya ?.. barang tersebut jelas nodanya, bau, apakah anda membelinya.. tadinya Anda anggap perlu mungkin anda menjadi membatalkan niat anda untuk membelinya.
Meskipun anda tidak tahu, lama-lama ketahuan juga, pasti ada terlintas kata menyesal pada diri anda karena membelinya kan.
Begitu juga dengan calon pendamping kita… hanya orang bodoh yang mau menerima yang udah jelas-jelas barang itu kotor, udah barang second, bahkan barang yang udah keseratus baru kekita-kita. Menyesal boy… nyesal kita “cowok” kalo tahu istri kita ternyata banyak mantan.
Aneh emang, banyak mantan menjadi suatu kebanggaan oleh anak muda zaman sekarang.. bahkan bangga bisa gonta ganti pasangan. Ih, bingung saya.
Tapi buat apa dipikirin ya.. yang gitu-gitu dirubah. Gimana merubahnya tentu caranya merubah system. Dan itu InsyaAllah kita-kita yang sadar akan hal tersebut.
Kuatkan akidah dan pemahaman tentang agama pada anak didik. Itu merupakan cara efektif dalam merubah system. Sulit kayaknya jika bermimpi merubah yang telah terjadi, tapi bukankah ada jalan untuk kita merubah generasi akan datang, itu tadi dengan cara menguasai dunia pendidikan dengan pemahaman penuh akan agama.
Right…..
Ehm… udah dulu ya.. kalo kurang jelas kasih komentar dan Tanya langsung.. kita akan bahas habis dah masalah pacaran. Soalnya lagi laper ni… lagi nulis diajak temen bali gado-gado.. jadi hilang konsentrasi.. hehe….
Oke Sob All… Ws..wr…wb….

Minggu, 03 November 2013

Jangan hanya tahu--tapi pahami Donk !!!!!......


Jangan Hanya Tahu----Tapi---Fahamilah Sob….
Perjalan 1 Jam Bukanlah Perjalanan Yang Sangat Jauh. Tapi Lumayan Melelahkan Gue Duduk  Menyetir Motor  Gue..Kwkwkkw…
Emmmmmm------- Apa Ya….
Oya Gini. Dalam Perjalan Siang Tadi, Jauh Lumayan Jauh,,, Emmmmm…. Jauuuuuuhhhhhh… Gue Dipertanyakan Oleh Someone Yang Membuat Gue Jadi Ngemikir Sepanjang Jalan. Ada Apa Sebenarnya Dengan Ellluuuu. Itu Yang Gue Pikirin.
Topiknya “Jangan Cumin Tau Donk… Tapi Pleace Pahamila”. Harus Itu Sob…..
Yang Lagi Hight-Hightnya This Day…. Pacaran Berjilbab.. Emmmmmm---- Kalo Ngebahas Hal Ini Efeknya Sih Gue Pasti Dibilangin Da’wah Bukan Pada Tempatnya, So’ Alim, So’ Ustadz Dan Sejenisnyalah, Yang Jelas Sifatnya Yeahhhhh Bias Dibilang Melecehkan… Emmm, Tapi Bias Jadi Juga Itu Prasangka Buruk Gue Ketika Lagi Panic Dan Saraf-Saraf Gue Keputus. Tapi Udahlah, Sakit Atau Apa, Gue Harus Sampaikan Hal Ini. Karen Meskipun Gimana Kritik Yang Gue Terima, Ini Kebenaran Ko’… Dan Itu Harus Disampaikan, Dan Wajib Hukumnya.
Langsung Ajja…
Gue Heran Anak Muda Now…. Belajar  Dan Tinggi Tapi Kaya’nya Ngg’  Pernah Memahami…. Semakin Tinggi Kaya’nya Semakin Blo’on Dah Bias Dibilang. Gini Ya, Seharusnya Semakin Tingggi Tingkat Belajar Tu Semakin Matang Dalam Pikiran, Top Dalam Masalah Hidup Dan Berakhlak. Kenapa Belajar, Ya Jelas Kita-Kita Kan Pengen Beda Dri Yang Awam. Beda Tentunya Beda Ebaikan Dan Pola Pikirnya. Dan Tentunya Semakin Berakhlak Yang Pastinya.
Tiga Tahun Dalam Dunia Kampus. Gue Disuruh Menghafas Rumus Pitagoras---Bener Ngg’ Tulisannya Gitu Ya Hehhe---- Disuruh Menghafal Jajar Genjang, Sumbu Simetri, Teori Niel Niel Amstrong, Fisika Dan Bunnyyyyakkk Lagi, Sampai-Sampai Sampai Saat Ini Satu Ngg’ Ada Yang Gue Hafal. Habis Bingung Mana Yang Utama Dan Paling Utama. Hehhe….
Tapi Tidak  Masalah Agama, Gue Dipertanyakan Oleh Satu Hal, “Tuntutlah Ilmu Sampai Kenegeri China”… Kalimat Tersebut Tentunya Tidak Asing Lagi Bagi Kita Kan….. ---Udah Ngangguk Ajja----. Yang Menjadi Pertanyaan Kenapa Meski Kenegeri Cina, Kenapa Tidak Kenegara Arab Yang Udah Jelas Islam Dan Agama Benernya.
Sekarang Sayadapat Jawabannya. Kita Disuruh Belajar Kenegeri China Agar Kita Bias Membandingkan, Mana Kafir Mana Yang Beragama. Mana Benar Mana Salah, Mana Yang Sip Mana Yang Cit… Ah Yang Jelas Agar Kita Tahu Perbandingan Gitu Ajja.
Sebagai Perbandingan… Semisal Dinegara A Berahlak Bagus, Dan Negara B Berakhlak Jelek…. Ketika Ada Persamaan Diantara Negara A Dan Negara B,, Disitulah Ilmu Berperan Dan Kita Sebagai Pelajar Wabib Mengkajinya Dan Wajib Mencari Sumbernya, Mana Yang Benarnya.
Jangan Kita Menggabungkannya, Kalo Kita Gabungkan Akan Berakibat Fatal Kita, Sakit Dan Sesat.
Sahabatku-------
Jilbab Itu Dari Islam, Dan Sebagai Orang Muslim Kita Wajib---Wanita--- Untuk Memakai Jilbab. Karena Itu Emang Allah Udah Perintahkan.
Dalam Islam Tidak Ada Isltilah Pacaran. Dan Kata Pacaran Itu Merupakan Tradisi Negara Yahudi. Kita Tahu Itu Dan Wajib Kita Tahu. Sebagai Pelajar Perguruan Tinggi, Jika Tidak  Mengetahui Hal Itu Yeah “Lebih Baik Ngga’ Usah Belajar Ellu”… Percuma Sob.
Belajar Tentunya Untuk Lebih Baik. Semua Itu. Bukan Menggabungkan Keburukan Dan Kebaikan Menjadi Satu Fariabel.
Gue Bertanya,--- Kenapa Mereka Pacaran Yang Si Cewek Pakai Jilbab…. Saya Yakin Dan 1000 % Saya Yakin… Jilbab Yang Dipakainya Itu Sama Sekali Tidak Dipahaminya, Hanya Ikut-Ikutan. Ngikut Zaman. Ah Kacau.
Benci Gue… Sangat Sangat Benci. Orang Yahudi Saat Ini Ketawanya Terbahak-Bahak Ngeliet Orang Muslim—Generasi Mudanya---- Dapat Mereka Hancurkan Melalui Akhlak.
Sadarlah….
Itu Bukan Ajaran Agama Kita. Kita Punya Agama, Punya Jalan Hidup Dan Itu Harus Kita Ikuti. Ini Masalah Agama. Agama Itu Udah Ditentukan Dan Sebagai Muslim Wajib Kita Ikuti, Sami’na Waato’na….
Jangan Bangga Ellu Punya Pacar Keren…. Selagi Itu Pacar…. Dimata Muslimin Ellu Jelek Banget Dah… Ngga’ Ada Harganya…… Jika Gue Bilang Masalah Kajiannya—Ma’af…. Lebih Jelek Dari Binatang Sob.